Diskusi Buku “Masalembu: Suara dari Laut Seberang” Menggugat Stereotip dan Menghadirkan Perspektif Kepulauan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP — Diskusi Ngobrol Buku bertajuk “Masalembu: Suara dari Laut Seberang” digelar melalui kolaborasi LESBUMI PCNU Sumenep dan Penerbit Literatus, (22/08/2026). Acara ini menghadirkan Mahéng sebagai penulis buku, A. Dadiri Zubairi sebagai penanggap I, Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap II, serta Ummul Hasanah sebagai moderator.

Diskusi tidak hanya membahas proses kreatif penulisan, tetapi juga membuka percakapan tentang Masalembu, identitas Madura, stereotip, hingga persoalan pembangunan wilayah kepulauan.

Mahéng mengungkapkan bahwa penulisan buku tersebut pada awalnya tidak direncanakan. Berangkat dari cerita masyarakat dan pengalaman perjalanan, ia menemukan banyak kisah menarik yang selama ini tertutup oleh stigma negatif tentang Masalembu.

“Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” ungkap Maheng. Menurutnya, buku tersebut menjadi upaya merekam pengalaman sekaligus menghadirkan narasi tandingan terhadap anggapan bahwa Masalembu merupakan wilayah berbahaya atau identik dengan “Segitiga Bermuda”.

Dengan pendekatan journalism feature, Mahéng menulis tentang kehidupan masyarakat Masalembu yang dihuni berbagai kelompok, termasuk Madura, Bugis, dan Mandar. Baginya, laut bukanlah pemisah, melainkan jembatan yang mempertemukan kebudayaan dan membangun peradaban.

Sementara itu, Iskandar Dzulkarnain menilai buku tersebut penting untuk menantang stereotip lama terhadap masyarakat Madura yang kerap dibentuk melalui perspektif kolonial. Menurutnya, kebudayaan Madura sejak lama terbuka dan mengalami persilangan dengan berbagai kebudayaan lain.

Ia juga menyoroti persoalan pembangunan kepulauan yang masih berorientasi daratan. Berbagai masalah seperti akses kesehatan, listrik, lingkungan, hingga kebijakan pengelolaan sumber daya laut dinilai membutuhkan perhatian serius.

Melalui buku ini, Maheng berharap masyarakat tidak hanya mengenal Masalembu melalui cerita atau stigma. “Datang dan lihat sendiri. Jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya.

Diskusi tersebut menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengenali kembali kepulauan Sumenep sebagai wilayah yang kaya cerita, budaya, dan peradaban.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel nalarpos.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Plt Direktur RSUD Sumenep Erliyati Dianugerahi Brevet Kehormatan oleh TNI AL
Disdik Sumenep Dorong Pelajar Ikuti Lomba Menulis Surat untuk Bupati
125 Hari Tanpa Jeda, Sedekah Setiap Hari Detikzone.id Terus Berbagi kepada Warga
Sempat Masuk DPO, Tersangka Penipuan Modal Usaha Rp 200 Juta Ditangkap Polresta Sumenep
Dugaan Pencabulan Anak di Ruang Guru SD di Sumenep, Pria 43 Tahun Diamankan Polisi
Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Sumenep Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan
Ratusan Karyawan CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Terima BLT DBHCHT Rp600.000
DPRD Sumenep Bahas 9 Raperda, 8 Disepakati Lanjut ke Gubernur
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Plt Direktur RSUD Sumenep Erliyati Dianugerahi Brevet Kehormatan oleh TNI AL

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:40 WIB

Disdik Sumenep Dorong Pelajar Ikuti Lomba Menulis Surat untuk Bupati

Senin, 5 Oktober 2026 - 21:51 WIB

125 Hari Tanpa Jeda, Sedekah Setiap Hari Detikzone.id Terus Berbagi kepada Warga

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Sempat Masuk DPO, Tersangka Penipuan Modal Usaha Rp 200 Juta Ditangkap Polresta Sumenep

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:39 WIB

Dugaan Pencabulan Anak di Ruang Guru SD di Sumenep, Pria 43 Tahun Diamankan Polisi

Berita Terbaru