SUMENEP, NALARPOS.ID – Dugaan persoalan pelayanan kesehatan kembali mencuat di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Kali ini, informasi yang beredar menyebut seorang pasien perempuan berinisial SM sempat mendapatkan pelayanan di salah satu tempat praktik mandiri di Kecamatan Manding sebelum akhirnya meninggal dunia setelah dibawa ke Puskesmas setempat.
Informasi mengenai dugaan tersebut diterima redaksi pada Senin, 10 Agustus 2026. Namun, hingga kini belum terdapat keterangan resmi dari instansi berwenang yang menyatakan bahwa kematian pasien tersebut disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan. Namun, isu yang beredar, Pasien Inisial SM Meninggal Dunia di Puskesmas Manding akibat keracunan Obat.
Untuk memperoleh konfirmasi dan keberimbangan informasi, media ini kemudian menghubungi pihak yang disebut dalam informasi tersebut. Saat dikonfirmasi pada Sabtu (15/8/2026), perawat praktik mandiri berinisial FR membantah adanya dugaan malpraktik di tempat praktiknya.
“Terkait isu malpraktik di tempat kami itu tidak benar,” kata FR kepada NALARPOS.ID, Sabtu (15/8/2026).
FR juga meminta agar informasi mengenai dugaan malpraktik terhadap pasien berinisial SM tidak langsung diarahkan kepadanya. Ia menjelaskan bahwa saat pasien datang ke tempat praktiknya, kondisi pasien disebut dalam keadaan baik.
“Pasien datang ke tempat saya dengan kondisi baik. Setelah selesai, pulang dengan baik,” ujarnya.
Selain mengenai dugaan pelayanan medis, media ini juga meminta penjelasan FR terkait legalitas tempat praktik yang dijalankannya. FR menyampaikan bahwa dirinya telah memiliki izin untuk menjalankan praktik sebagai perawat mandiri.
“Untuk surat izin praktik perawat mandiri saya sudah punya, Pak,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), serta izin operasional rawat inap, FR memberikan penjelasan bahwa tempat tersebut menurutnya bukan merupakan klinik.
“Untuk PBG dan SLF. Dan izin ini bukan izin klinik, melainkan izin praktik perawat mandiri,” jelasnya.
Namun, ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai kronologi pasien SM hingga akhirnya meninggal dunia di fasilitas kesehatan setelah sebelumnya mendapatkan pelayanan di tempat praktik tersebut, FR tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sejumlah pesan WhatsApp yang dikirimkan pewarta diketahui telah terbaca, ditandai dengan centang dua, namun hingga berita ini ditulis belum mendapatkan jawaban lebih lanjut mengenai substansi dugaan tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, dr. Nuruddin membenarkan bahwa pasien berinisial SM memang meninggal dunia di Puskesmas Manding. Namun, berdasarkan informasi dari tenaga kesehatan yang bertugas saat kejadian, kondisi pasien ketika tiba di Puskesmas disebut sudah mengalami penurunan kesadaran.
“Benar ada, Pak. Menurut tenaga kesehatan (nakes) yang jaga, pasien tiba di Puskesmas kondisinya sudah mengalami penurunan kesadaran. Tujuh menit di Puskesmas sudah meninggal,” kata dr. Nuruddin saat dikonfirmasi NALARPOS.ID, Ahad (16/8/2026) kemarin.
Menurutnya, berdasarkan informasi awal yang diterima dari tenaga kesehatan yang bertugas, pasien SM sebelumnya memang sempat memeriksakan diri ke salah satu praktik perawat mandiri di Kecamatan Manding.
Namun, pihak Puskesmas mengaku belum mengetahui secara pasti mengenai kondisi pasien sebelum datang ke Puskesmas, termasuk jenis obat atau tindakan yang diberikan saat pasien menjalani pemeriksaan di tempat praktik tersebut.
“Menurut info dari nakes yang jaga, pasien inisial SM habis periksa dari salah satu perawat di Manding. Soal keracunan atau tidaknya kurang paham karena tidak tahu dikasih obat apa waktu periksa,” jelasnya.
dr. Nuruddin kemudian menyampaikan adanya informasi dari keluarga pasien yang diterima pihaknya. Berdasarkan keterangan tersebut, kondisi pasien disebut sudah lemas ketika berada di tempat praktik perawat.
Bahkan, menurut informasi yang diterima dari keluarga, pasien Inisial SM disebut sempat meminta bantuan kepada keluarga pasien lain yang kebetulan sedang berada di tempat praktik tersebut agar diantar ke Puskesmas.
“Namun menurut keluarga pasien waktu di tempat praktiknya perawat itu, pasien sudah lemas dan minta tolong kepada keluarga pasien lain yang kebetulan juga periksa di perawat itu, minta diantarkan ke Puskesmas. Coba Bapak klarifikasi ke keluarganya,” ujar dr. Nuruddin.















