Maulid Nabi, Prof Achmad Muhlis Dorong Kebahagiaan Jadi Energi Berbagi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN, NALARPOS. ID – Makna kebahagiaan dalam kehidupan tidak selalu dapat diukur dari banyaknya harta, jabatan, maupun pencapaian yang dimiliki seseorang. Dalam pandangan Islam, kebahagiaan justru erat kaitannya dengan kemampuan manusia menyadari, mensyukuri, dan membagikan karunia Allah kepada sesama.

Hal itu disampaikan Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan sekaligus Ketua Senat UIN Madura, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, saat memberikan pandangan mengenai kandungan QS. Yunus ayat 58, Rabu (26/8/2026).

Menurut Prof. Achmad Muhlis, ayat tersebut memberikan perspektif bahwa umat Islam memiliki ruang untuk bergembira. Namun, kegembiraan itu hendaknya tidak berhenti pada kesenangan pribadi, melainkan diarahkan pada kesadaran spiritual dan kemanfaatan sosial.

“Al-Qur’an mengarahkan agar kegembiraan memiliki orientasi transendental. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita menyadari hadirnya karunia dan rahmat Allah dalam kehidupan,” ujarnya.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam tersebut menjelaskan, karunia Allah seharusnya tidak hanya menjadi alasan seseorang merasa bangga atau puas. Karunia tersebut perlu diiringi rasa syukur yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ia mencontohkan keberhasilan seorang anak dalam menghafal Al-Qur’an. Prestasi tersebut tentu patut dirayakan, tetapi maknanya akan menjadi lebih besar apabila keberhasilan itu mendorong anak untuk semakin mencintai Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

“Jadi, kegembiraan tidak berhenti pada pencapaian. Ada tanggung jawab untuk menjaga karunia tersebut melalui rasa syukur dan amal nyata,” katanya.

Prof. Muhlis juga menghubungkan pesan QS. Yunus ayat 58 dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kegembiraan atas kelahiran dan diutusnya Rasulullah SAW semestinya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial.

Peringatan Maulid, kata dia, dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan seperti membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni anak yatim, berbagi makanan, dan membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan contoh bagaimana kebahagiaan pribadi dapat berkembang menjadi kebahagiaan bersama.

“Ketika masyarakat berkumpul memperingati Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni anak yatim, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan, di situlah kegembiraan individual bertransformasi menjadi modal sosial,” jelasnya.

Ia menilai, tradisi keagamaan memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan sosial. Pesantren dan masyarakat dapat menjadikan momentum keagamaan sebagai sarana untuk mempertemukan nilai spiritual dengan kepedulian sosial.

Generasi muda pun dapat belajar bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan hanya melalui ucapan dan perayaan, tetapi juga dengan meneladani akhlak serta kepedulian beliau kepada sesama.

Prof. Muhlis menegaskan, masyarakat tidak cukup hanya mengejar keberhasilan ekonomi dan material. Kehidupan sosial juga membutuhkan nilai spiritual yang mampu menjadi perekat di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, rasa syukur yang tumbuh dari kesadaran terhadap rahmat Allah akan mendorong seseorang untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

“Kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah akan melahirkan rasa syukur. Syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan nyata bagi sosial,” tegasnya.

Sebaliknya, kebahagiaan yang hanya bertumpu pada kepemilikan dan kepentingan diri sendiri berpotensi melahirkan kesombongan, persaingan tidak sehat, serta sikap individualistis.

Karena itu, Prof. Muhlis mengajak masyarakat menjadikan kebahagiaan sebagai energi untuk melakukan kebaikan. Ukuran kegembiraan, menurutnya, bukan semata-mata jumlah pencapaian yang berhasil dikumpulkan, tetapi perubahan positif yang lahir setelah seseorang memperoleh karunia.

“Semakin seseorang mengenal dan mencintai Rasulullah, semestinya makin lembut akhlaknya, makin luas kepeduliannya, dan makin besar manfaat yang ia bagikan kepada sesama,” pungkasnya.

Dengan demikian, kegembiraan dalam perspektif Islam bukan sekadar perasaan senang atas apa yang telah dimiliki. Kebahagiaan idealnya menjadi jalan untuk mensyukuri rahmat Allah sekaligus menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel nalarpos.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Ungkap Kasus Sabu di Saronggi Sumenep, Dua Pria Diamankan
FIKOM Unitomo Gandeng PERHUMAS, Mahasiswa Dibekali Strategi Komunikasi Krisis
Diduga Aniaya Istri dan Ancam Bunuh Anak, Pria di Sumenep Diamankan Polisi
Diikuti 119 Pelajar, Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep Dorong Kompetensi Siswa SMA/MA
Warga Pamolokan Ditemukan Meninggal di Rumah, Polisi Selidiki Penyebabnya
Plt Direktur RSUD Sumenep Erliyati Dianugerahi Brevet Kehormatan oleh TNI AL
Disdik Sumenep Dorong Pelajar Ikuti Lomba Menulis Surat untuk Bupati
125 Hari Tanpa Jeda, Sedekah Setiap Hari Detikzone.id Terus Berbagi kepada Warga
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Polisi Ungkap Kasus Sabu di Saronggi Sumenep, Dua Pria Diamankan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:45 WIB

FIKOM Unitomo Gandeng PERHUMAS, Mahasiswa Dibekali Strategi Komunikasi Krisis

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Diduga Aniaya Istri dan Ancam Bunuh Anak, Pria di Sumenep Diamankan Polisi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 22:58 WIB

Diikuti 119 Pelajar, Olimpiade Ekonomi MGMP Sumenep Dorong Kompetensi Siswa SMA/MA

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:44 WIB

Warga Pamolokan Ditemukan Meninggal di Rumah, Polisi Selidiki Penyebabnya

Berita Terbaru