SUMENEP | NALARPOS.ID — DRT The Big Family kembali menunjukkan komitmennya dalam pembangunan daerah sekaligus pelestarian budaya lokal Madura melalui Lomba Kerapan Sapi Kapolres Sumenep Cup 2025. Kegiatan ini digelar di Lapangan Kerapan Sapi Sumenep, Sabtu (13/12/2025).
Ajang bergengsi tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Do’a Reng Toah (DRT). Sebanyak 64 peserta ambil bagian dalam lomba ini, yang berasal dari empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Bangkalan, dan Sampang.
Owner DRT The Big Family, H. Syafwan Wahyudi atau yang akrab disapa H. Udik, menegaskan bahwa kerapan sapi bukan sekadar perlombaan adu kecepatan, melainkan sarana edukasi budaya dan pembentukan karakter generasi muda.
Menurutnya, kerapan sapi merupakan warisan budaya Madura yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Melalui tradisi ini, peserta diajarkan tentang disiplin, kerja sama tim, kesabaran, serta tanggung jawab dalam merawat hewan dan menghormati proses.
“Kerapan sapi bukan hanya soal lomba atau menang-kalah. Di dalamnya terdapat nilai pendidikan karakter yang sangat kuat, seperti disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Ini penting untuk ditanamkan kepada generasi muda,” ujar H. Udik.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata DRT The Big Family dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Madura. Tradisi lokal, menurutnya, harus terus dirawat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Melestarikan budaya adalah bagian dari membangun karakter bangsa. Olahraga tradisional seperti kerapan sapi mengajarkan nilai-nilai yang tidak selalu diperoleh di bangku sekolah,” jelasnya.
H. Udik juga menekankan bahwa event ini dirancang sebagai sarana pendidikan yang menyenangkan, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga di Madura. Kerapan sapi dinilai mampu menjadi media pemersatu masyarakat lintas daerah.
Ia berharap, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mencintai dan bangga terhadap budaya daerahnya.
“Budaya yang lestari akan memperkuat identitas daerah dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran. Ini yang terus kami dorong melalui event seperti ini,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, H. Udik juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang lomba. Ia berharap prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi untuk terus menjunjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai budaya.
“Selamat kepada para pemenang. Semoga keberhasilan ini menjadi penyemangat untuk terus berlatih, menghargai tradisi, dan menjunjung sportivitas dalam setiap ajang,” katanya.
Sekadar diketahui, pada babak final, sapi andalan milik H. Fathor Rosi dari Pamekasan yang bernama “Tak Mau Dimadu 99” berhasil keluar sebagai juara pertama. Sapi tersebut bersaing ketat dengan dua finalis lainnya yang berasal dari Bangkalan.
Keberhasilan penyelenggaraan lomba ini, menurut H. Udik, merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta semangat kebersamaan semua pihak yang terlibat. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan pesan edukatif yang ingin disampaikan melalui lomba kerapan sapi.
Melalui kegiatan ini, DRT The Big Family membuktikan bahwa pelestarian budaya Madura dapat berjalan seiring dengan pembangunan karakter generasi muda. Kerapan sapi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana belajar yang hidup dan inspiratif bagi masyarakat luas.
Penulis : Fer













