Tangis di Warung Kopi hingga Toga Magister: Kisah Menggetarkan Aipda Purnomo

Minggu, 26 April 2026 - 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Aipda Purnomo saat memakai Tiga kelulusan sebagai Magister S2 di Universitas Dr Soetomo Surabaya.

Foto. Aipda Purnomo saat memakai Tiga kelulusan sebagai Magister S2 di Universitas Dr Soetomo Surabaya.

SURABAYA | NALARPOS.ID — Di balik seragam cokelat yang gagah, tersimpan memori pahit tentang tumpukan utang dan kepulangan ke kampung halaman dengan tangan hampa. Bagi Aipda Purnomo, atau yang akrab dikenal publik sebagai “Polisi Belajar Baik,” pengabdiannya saat ini bukan sekadar tugas negara, melainkan sebuah misi penebusan janji kepada Sang Pencipta.

Lulusan Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) ini kini menjadi sorotan bukan karena pangkatnya, melainkan karena dedikasinya merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan warga telantar melalui yayasannya.

Momen kelulusannya yang dirayakan di Dyandra Convention Center Surabaya pada Minggu, 26 April 2026, menjadi tonggak pencapaian baru dalam hidupnya.

Namun, siapa sangka, di balik toga yang ia kenakan, fondasi kemanusiaan itu lahir dari getirnya kemiskinan di masa muda yang pernah menghimpitnya.

Memori Warung Kopi dan Rasa Iri yang Terpendam

Mengenang masa sekolah, Purnomo bercerita dengan mata berkaca-kaca. Saat teman-teman sebayanya asyik bermain atau menonton hiburan orkes, Purnomo harus bergelut dengan cucian piring di warung kopi milik ibunya.

“Jujur, saya dulu utangnya banyak. Di saat teman-teman bisa sekolah senang, saya harus bantu Ibu jualan kopi. Sebelum berangkat sekolah, wajib bantu dulu. Pulang sekolah pun saya sibuk di belakang warung, cuci piring, sementara teman-teman mengolok saya karena tidak pernah keluar rumah,” kenang Purnomo emosional.

Kesedihan terbesarnya saat itu bukanlah rasa lelah, melainkan melihat orang tuanya yang terus-menerus terlilit utang demi menyambung hidup. Hal inilah yang memicu tekad kuat dalam dirinya: jika suatu saat ia berkecukupan, ia tidak ingin ada orang lain yang merasakan penderitaan serupa.

Dari Cita-cita Kiai Menjadi Penjual Soto di Surabaya

Menariknya, menjadi polisi bukanlah cita-cita awal pria berusia 40 tahun ini. Purnomo muda justru bercita-cita menjadi seorang Kiai dan ingin menimba ilmu di pondok pesantren. Namun, restu sang ayah membawanya ke sekolah negeri, hingga akhirnya ia merantau ke Surabaya untuk menyambung hidup sebagai penjual soto.

“Saya sempat jualan soto di Surabaya sekitar satu setengah tahun, sekitar tahun 1999 sampai 2000. Setiap minggu saya pulang hanya bisa memberi uang 20.000 sampai 40.000 ribu rupiah untuk Ibu,” tuturnya.

Pintu nasib terbuka saat sang tante memberikan informasi pendaftaran polisi. Tanpa bekal apa pun kecuali doa, Purnomo melangkah ke Polda. Di sepanjang perjalanan hingga proses seleksi, lisannya tak berhenti merapal selawat dan surat Al-Fatihah, sembari mengucap janji suci kepada Tuhan.

Janji 10 Persen dan Masa Purna yang Teduh
Saat mendaftar, Purnomo membuat kontrak batin: jika ia diterima menjadi polisi, ia akan menyedekahkan 10 hingga 20 persen penghasilannya untuk anak yatim dan kegiatan sosial.

Janji itu ia pegang teguh hingga kini ia dikenal luas melalui aksi heroiknya menyelamatkan kaum marjinal di jalanan.

Kini, di tengah kesibukannya menyelesaikan studi hukum di Unitomo, Purnomo tengah mempersiapkan masa purnanya dengan membangun masjid dan tempat penampungan yang lebih layak bagi ODGJ, anak jalanan, dan orang telantar.

“Di usia 40 ini, kita harus tahu arah mana yang akan kita tuju. Allah sudah beri kecukupan, sekarang saatnya saya lebih fokus beribadah dan menjadi manfaat bagi lingkungan,” pungkasnya dengan nada rendah hati.

Kisah Purnomo adalah pengingat bahwa masa lalu yang kelam tidak selalu menentukan masa depan yang suram. Baginya, setiap seragam yang dikenakan adalah amanah untuk memastikan bahwa tidak ada lagi “Purnomo-Purnomo” lain yang harus menangis karena jeratan utang dan ketidakberdayaan.

Facebook Comments Box

Penulis : Fer

Follow WhatsApp Channel nalarpos.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Pencabulan Anak di Ruang Guru SD di Sumenep, Pria 43 Tahun Diamankan Polisi
Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Sumenep Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan
Ratusan Karyawan CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Terima BLT DBHCHT Rp600.000
DPRD Sumenep Bahas 9 Raperda, 8 Disepakati Lanjut ke Gubernur
Dr. Sri Roekminiati Raih IPK 4,00 pada Program Doktor Ilmu Administrasi Universitas Jember
116 Hari Tanpa Jeda, Program Sedekah Setiap Hari Detikzone.id Terus Menyasar Warga
Pemkab Sumenep Rotasi 55 ASN, Sejumlah Jabatan Strategis di OPD Berganti
JSI Sumenep Siapkan Wartawan Hadapi UKW, Ujian Digelar Oktober 2026
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:39 WIB

Dugaan Pencabulan Anak di Ruang Guru SD di Sumenep, Pria 43 Tahun Diamankan Polisi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:26 WIB

Hari Kesaktian Pancasila, Bupati Sumenep Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:10 WIB

Ratusan Karyawan CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Terima BLT DBHCHT Rp600.000

Rabu, 30 September 2026 - 15:47 WIB

DPRD Sumenep Bahas 9 Raperda, 8 Disepakati Lanjut ke Gubernur

Minggu, 27 September 2026 - 16:36 WIB

Dr. Sri Roekminiati Raih IPK 4,00 pada Program Doktor Ilmu Administrasi Universitas Jember

Berita Terbaru