Harlah ke-58 Kopri: Meneguhkan Spirit Keagamaan dalam Gerakan Perempuan

Kamis, 25 September 2025 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Khaula Zulfa Yusuf, Kabid Keagamaan PC Kopri Jember

Foto. Khaula Zulfa Yusuf, Kabid Keagamaan PC Kopri Jember

OPINI | NALARPOS.ID Lahirnya Korps PMII Putri (Kopri) pada 25 September 1967 bersamaan dengan Mukernas II PMII di Semarang menjadi sebuah tonggak penting dalam sejarah gerakan perempuan di Indonesia.

Sejak awal, kehadirannya bukan hanya tentang membuka ruang keterlibatan perempuan dalam organisasi, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan spirit keagamaan yang kuat dalam setiap langkah perjuangan.

Kopri lahir di tengah suasana bangsa yang sedang mencari arah, dan sejak saat itu ia menjadi ruang bagi kader putri PMII untuk meneguhkan peran perempuan yang religius, progresif, sekaligus inklusif dalam membangun peradaban.

Dalam rentang lima puluh delapan tahun, Kopri terus membuktikan bahwa gerakan perempuan tidak bisa dipisahkan dari nilai keagamaan. Nilai inilah yang menjadi landasan utama sekaligus sumber energi untuk bertahan menghadapi dinamika zaman.

Keagamaan dalam perspektif Kopri bukanlah semata ritual individual, tetapi lebih luas dari itu: sebuah kesadaran spiritual yang menuntun sikap, keputusan, dan arah perjuangan.

Spirit inilah yang membuat kader Kopri memiliki ketangguhan, tidak mudah goyah, dan selalu berusaha menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam ruang publik.

Gerakan perempuan yang digelorakan Kopri selama ini selalu berpijak pada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Dari prinsip ini lahirlah komitmen untuk memperjuangkan keadilan, melawan diskriminasi, serta menghadirkan ruang yang setara bagi perempuan maupun laki-laki.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan bukan untuk saling menundukkan, tetapi untuk saling melengkapi dan menguatkan.

Prinsip kesalingan inilah yang menjadi dasar bahwa perjuangan perempuan bukanlah perjuangan melawan laki-laki, melainkan perjuangan bersama untuk menghadirkan masyarakat yang lebih adil dan beradab.

Dalam konteks kehidupan sosial hari ini, nilai keagamaan harus menjadi kompas yang menuntun kader putri PMII dalam bergerak. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, maraknya pernikahan dini, hingga diskriminasi gender yang masih kerap terjadi adalah tantangan nyata yang dihadapi.

Menghadapi kenyataan ini, kader Kopri tidak cukup hanya dengan semangat perjuangan, tetapi juga harus dibekali dengan pemahaman agama yang mendalam. Dengan pemahaman itu, kader mampu memberikan pencerahan bahwa Islam sejatinya mengajarkan rahmah, keadilan, dan penghormatan terhadap perempuan.

Kaderisasi yang dilakukan Kopri di berbagai tingkatan selalu menempatkan aspek keagamaan sebagai fondasi utama. Penguatan spiritualitas melalui kajian, halaqah, maupun praktik ibadah kolektif menjadi sarana membentuk karakter kader.

Spirit keagamaan ditanamkan agar kader tidak kehilangan arah di tengah arus besar modernisasi. Dengan pijakan nilai agama, setiap kader akan memiliki kepribadian yang kuat, tidak mudah terjebak pada pragmatisme, dan mampu menjaga integritas dalam setiap langkah perjuangan.

Gerakan Kopri dengan basis keagamaan juga memberi penekanan bahwa pendidikan adalah hak dan kewajiban. Menuntut ilmu adalah perintah agama, dan karena itu perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan pengetahuan.

Kopri menegaskan bahwa hak untuk bersekolah, berpendidikan tinggi, dan berkontribusi dalam pembangunan adalah bagian dari ibadah. Ketika perempuan belajar, mengajar, dan berkontribusi, maka ia sedang menjalankan perintah agama yang mulia.

Momentum harlah ke-58 ini mengingatkan bahwa penguatan keagamaan tidak boleh dipandang sebagai aspek tambahan, melainkan sebagai inti dari gerakan. Dengan pondasi agama, kader Kopri tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dari kombinasi inilah lahir kader yang paripurna: mampu berfikir kritis, berbuat kreatif, namun tetap menjaga nilai-nilai ketuhanan dalam setiap tindakan.

Spirit keagamaan juga menjadi benteng moral bagi kader putri PMII untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Godaan hedonisme, budaya instan, serta derasnya arus digitalisasi sering kali membuat generasi muda kehilangan pijakan. Dalam situasi ini, kader Kopri yang memiliki dasar keagamaan yang kokoh akan tetap teguh. Mereka mampu menggunakan teknologi secara bijak, terlibat dalam dunia digital tanpa kehilangan nilai, serta tetap menjaga marwah perempuan sebagai insan yang mulia.

Ke depan, harapan besar bagi Kopri adalah melahirkan generasi perempuan yang cendekia, yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agamis dalam sikap. Cerdas berarti mampu memahami realitas dan mencari solusi, agamis berarti menjadikan agama sebagai panduan hidup, dan mandiri-kreatif berarti mampu berinovasi tanpa melupakan nilai.

Dengan tiga pilar ini, kader putri PMII akan mampu mengambil peran strategis dalam membangun bangsa dan menghadirkan peradaban inklusif.

Lima puluh delapan tahun perjalanan menunjukkan bahwa Kopri bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pengabdian yang menyatukan nilai agama dan gerakan sosial.

Dari generasi ke generasi, Kopri telah menanamkan semangat bahwa berorganisasi adalah bagian dari ibadah, memperjuangkan hak perempuan adalah bagian dari jihad kemanusiaan, dan menjaga nilai kesetaraan adalah bagian dari amanah agama.

Harlah ke-58 ini adalah momentum untuk mempertegas komitmen bahwa penguatan keagamaan harus terus menjadi napas perjuangan. Dengan bekal itu, setiap kader akan memiliki arah yang jelas, perjuangan yang bermakna, dan pengabdian yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga bernilai ibadah di hadapan Allah.

Selamat harlah ke-58, Kopri tercinta. Semoga spirit keagamaan yang menjadi fondasi perjuangan selalu terjaga, semoga setiap langkah kader putri PMII senantiasa dalam lindungan Allah, dan semoga perjuangan ini terus memberikan cahaya bagi bangsa dan peradaban.

PENULIS : Khaula Zulfa Yusuf, Kabid Keagamaan PC Kopri Jember

Facebook Comments Box

Penulis : HM

Follow WhatsApp Channel nalarpos.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Hampir Rampung, JSI Buktikan Jurnalisme Bernilai Sosial
Aktivis Alarm Warning Hiburan Malam, Kapolres Sumenep Sebut Komitmen Lakukan Patroli ke Mr Ball Sumenep
FKP RKPD 2027 Digelar, Pemkab Sumenep Serap Aspirasi Pemangku Kepentingan
Membedah Masa Depan Sumenep: Bappeda dan Mahasiswa Bahas Arah Pembangunan
Potensi Energi Terbarukan Sumenep Digarap Serius, Bappeda Libatkan BRIN dan Akademisi
PKH Diduga Bermasalah di Sapeken, HIMPASS Soroti Penahanan Kartu dan Pungli
Pemkab Sumenep Mantapkan Program Pembangunan 2026, Infrastruktur hingga Kesehatan Jadi Sorotan
Program Gizi Anak Diduga Jadi Ladang Politik, Dear Jatim Adukan MBG Sumenep
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 16:10 WIB

Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Hampir Rampung, JSI Buktikan Jurnalisme Bernilai Sosial

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:54 WIB

Aktivis Alarm Warning Hiburan Malam, Kapolres Sumenep Sebut Komitmen Lakukan Patroli ke Mr Ball Sumenep

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:59 WIB

FKP RKPD 2027 Digelar, Pemkab Sumenep Serap Aspirasi Pemangku Kepentingan

Senin, 26 Januari 2026 - 11:34 WIB

Membedah Masa Depan Sumenep: Bappeda dan Mahasiswa Bahas Arah Pembangunan

Kamis, 22 Januari 2026 - 14:29 WIB

Potensi Energi Terbarukan Sumenep Digarap Serius, Bappeda Libatkan BRIN dan Akademisi

Berita Terbaru