SUMENEP | NALARPOS.ID — Melalui Festival Garam Madura 2025, Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep berubah menjadi panggung akbar perpaduan sejarah, budaya, dan pesta rakyat, Minggu (21/9/2025).
Bukan sekadar seremoni, festival ini menyerupai pesta panen raya garam sekaligus perayaan identitas Madura sebagai “Pulau Garam” yang sudah dikenal sejak masa kolonial.
Festival ini makin dramatis dengan penampilan teatrikal rakyat yang mengisahkan Pangeran Angga Suta, sosok yang diyakini sebagai petani garam pertama di Madura.
Pertunjukan emosional itu mengingatkan publik bahwa garam bukan sekadar komoditas, melainkan jejak peradaban sekaligus simbol ketekunan leluhur.
“Festival Garam ini adalah cara kita merawat sejarah, mengenang asal-usul, sekaligus menghidupkan budaya dan ekonomi rakyat,” ujar Kepala Disbudporapar Sumenep, Moh. Iksan.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hingga malam. Dimulai dari jalan sehat, senam massal, pameran foto, hingga launching Kampung Garam yang melibatkan UMKM lokal. Sore harinya, masyarakat disuguhi lomba Tan Pangantanan – tradisi pernikahan khas Madura diiringi musik tong-tong yang membakar semangat peserta dan penonton.
Malam hari, suasana makin megah sekaligus haru. Penampilan Topeng Dalang dengan lakon Sejarah Nyadhar dan Garam Madura membuat penonton terhanyut. Siswa SD Karanganyar turut menampilkan kesenian khas, sebelum festival ditutup dengan lantunan Macopat Maulid Nabi Muhammad SAW, yang menghadirkan nuansa religius.
Bagi masyarakat Madura, garam bukan hanya hasil tambak, melainkan warisan alam dan budaya. Kondisi alam Madura dataran yang luas, musim kemarau panjang, dan kadar garam laut tinggi membuat pulau ini sejak lama menjadi pusat produksi garam terbesar di Indonesia.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011–2014) bahkan mencatat seluruh kabupaten di Madura memiliki tambak rakyat dengan produksi signifikan.
“Melalui festival ini, kami ingin mengembalikan kejayaan garam Madura, mengangkat martabat petani, dan menjaga agar sejarah panjang garam tidak hilang ditelan zaman,” tegas Moh. Iksan.
Festival Garam Madura 2025 pun menegaskan bahwa setiap butir garam Madura menyimpan kisah perjuangan, doa, dan kebanggaan.
Dari Pangeran Angga Suta hingga petani garam hari ini, Madura tetap berdiri sebagai pulau asin yang sarat sejarah dan berkilau budaya.
Sinta, warga Kecamatan Kalianget, berharap agar festival mendatang lebih besar dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Kami berharap Festival Garam tahun depan bisa lebih besar lagi. Bukan hanya menjadi pesta budaya, tapi juga momentum kebersamaan yang melibatkan petani garam, perusahaan, BUMN, hingga pemerintah daerah,” ujarnya.
Keinginan masyarakat ini layak menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Aspirasi agar Festival Garam berikutnya digelar lebih besar dengan melibatkan petani, perusahaan garam, BUMN, dan Pemkab bukanlah keinginan pribadi, melainkan refleksi kebutuhan riil masyarakat Madura.
Festival Garam bukan sekadar panggung seni dan budaya, melainkan wadah strategis untuk menyatukan kepentingan rakyat garam yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Jika aspirasi itu diabaikan, momentum emas ini bisa kehilangan makna besarnya.
Justru dengan kolaborasi lintas elemen—petani sebagai tulang punggung, perusahaan sebagai penggerak industri, BUMN sebagai penopang distribusi, serta Pemkab sebagai pengatur kebijakan Festival Garam dapat melesat menjadi ikon kebanggaan nasional.
Dengan begitu, suara masyarakat bukan sekadar harapan, melainkan alarm bahwa sudah saatnya semua pihak turun tangan. Kejayaan garam Madura harus kembali hidup, bukan hanya dikenang dalam sejarah.
Penulis : Fer













